Share
Lano Art NewsIndonesia

Kabar Duka dari Grup WhatsApp "Sontoloyo": Pelukis Legendaris Nasirun Tutup Usia di Tengah Pameran 'Syawalan Seni'

Thursday, 30 Jul 2026 15:18 WIB

Pameran tunggal "Memorabilia" oleh Nasirun di Orbital Dago Bandung, 19 Maret–27 April 2025. (Foto: Anwar Siswadi/Tempo.co)
Pameran tunggal "Memorabilia" oleh Nasirun di Orbital Dago Bandung, 19 Maret–27 April 2025. (Foto: Anwar Siswadi/Tempo.co)

Yogyakarta — Dunia seni Rupa Indonesia berduka. Pelukis Nasirun, meninggal dunia pada sabtu (1/8/2026) pukul 05.58 WIB di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta

Kabar wafatnya Nasirun menyebar di kalangan seniman salah satunya melalui grup whatsapp "Sontoloyo" yang berisikan Seniman, Penulis, Kurator, Praktisi dan pegiat seni rupa di Indonesia. Pada pukul 07.49 WIB, salah satu seniman Alfi Chaniago mengabarkan kepergian Nasirun dengan pesan singkat, "Innalillahi wa Inna ilaihi raaji'un. Pelukis Nasirun wafat, barusan".

Informasi tersebut kemudian diperkuat dengan beredarnya Surat Keterangan Kematian dari RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta yang dibagikan oleh Pelukis Kemalezedine di dalam grup Whatsapp "Sontoloyo" tersebut.

Berdasarkan Surat Keterangan tersebut, Nasirun meninggal dunia setelah mengalami sesak napas mendadak. Sebelumnya, ia diketahui sempat mengeluhkan gangguan asam lambung kronis.

Suasana berkabung menyelimuti rumah duka di Perum Bayeman Permai, Jl. Wates KM 3 - C.2, Onggobayan. Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Jenazah dimakamkan pada hari yang sama, Sabtu (1/8/2026) pukul 14.00 WIB di Makam seniman Giri Sapto, Imogiri Bantul.

Read now:Weaving as Argument: New Textile Work in Ubud

Berpulangnya Saat Karya Masih Menyapa Publik

Kepergian Nasirun terasa semakin menyentuh karena terjadi ketika karya-karyanya masih dipamerkan kepada publik. 

Saat ini, pameran kolaboratif "Arundhati, yang mempertemukan lukisan-lukisan Nasirun dengan karya patung Dunadi, masih berlangsung di Pendhapa Art Space, Bantul, Yogyakarta.

Pameran yang dibuka pada 20 Juni 2026 tersebut dijadwalkan hingga 20 Agustus 2026. Mengusung subtema"Syawalan Seni: Seniku Mohon Maaf Lahir dan batin".

Dengan kurasi Kuss Indarto, karya-karya Nasirun yang sarat simbol, spiritualitas, dan tradisi Nusantara kini tidak hanya menjadi "sajian artistik", tetapi juga menghadirkan ruang refleksi. Tema "Mohon Maaf Lahir dan Batin seakan menjadi pesan terakhir yang ditinggalkan kepada Publik seni rupa Indonesia.

Meski sang Pelukis Legendaris telah berpulang, karya-karyanya akan terus hidup sebagai warisan penting dalam torehan perjalanan seni rupa di Indonesia.

Read now:Notes From a Residency in Karangasem


Jejak Berkesenian 

Lahir di Cilacap pada 1 Oktober 1965, Nasirun hijrah ke Yogyakarta pada 1983 untuk menempuh pendidikan seni. Ia memiliki latar belakang pendidikan seni Kriya Batik dan Seni Murni, yang kemudian membentuk karakter visualnya yang khas.

Sejak menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1987 - 1994, Nasirun dikenal sebagai salah satu perupa paling produktif di Indonesia. Seperti dilansir dari website resmi bentarabudaya.com, Ia telah menggelar ratusan pameran tunggal ataupun pameran bersama di dalam dan luar negeri, di antaranya Uwuh Seni (Galeri Salihara, Jakarta, 2012), Breath Of Nasirun (Mizuma Gallery Tokyo, Jepang, 2014), RUN - Embracing Diversity (Sportorium, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2016), Wirid on Canvas (Natan Galeri, Kotagede, Yogyakarta), Menafsir Borobudur (Latar Galeri, Lobby BTPN CBD Sinaya, Jakarta, 2020), Metajagad Nasirun (Soboman Art, Yogyakarta, 2021), hingga Perayaan Persahabatan (Museum OHD, Magelang, Juli 2023)

Sedangkan pameran bersama yang pernah Nasirun ikuti sebagian di antaranya “Pathos of the Fringes” (Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan, 2017), “Shah Alam Bienalle” (Malaysia, 2017), “Merayakan Optimisme” (Jogja National Museum, 2019), pameran virtual UI Art X (Universitas Indonesia, 2020), “Yogya Annual Art” (Sangkring Art Space, Yogyakarta, 2021), “Manifesto” (Galeri Nasional, Jakarta, 2022), “Bridge of Colour” (Thailand, 2022), “Bias Borneo” (Taman Budaya Kalimantan Selatan, 2022),“Wiwitan Poso”(Kiniko, Polda DIY, 2023),“Hidup”(Langgeng Art Foundation, Yogyakarta 2023), “Symphony” Kaligrafi oleh UIN Sunan Kalijaga (Taman Budaya Yogyakarta, 2023), “Kita Berteman Sudah Lama” (Bentara Budaya Yogyakarta, 2023), “MEMOAR 24/101” (Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, 2024), pameran MayinArt (Singapore, 2024), dan masih banyak lainnya. Beberapa penghargaan yang pernah diraih oleh Nasirun meliputi Penghargaan Sketsa dan Seni Lukis terbaik, ISI Yogyakarta, Penghargaan McDonald Award pada Lustrum ISI ke-X, dan Penghargaan Philip Morris Award pada 1997. 

Comments